perhatikan baik -baik foto dibawah ini...
perhatikan baik baik logo watak!!!
adakah yang salah ketika saya mengupas angka 13???
atau dibawah ini??

Mereka saling memandang. pertanyaan itu dilempar oleh arief kearah mereka.
" Takwa berarti taat, tunduk patuh kepada tuhan yang maha kuasa. Surat Al baqarah mengupas itukan?" Tenri menjawab singkat.
" ya, begitu dong lepasan basic training!" Rury kembali menggoda tenri.
" TAKWA = WATAK." Arief menyebutnya dengan pelan. Rokok sampoerna diisapnya dengan keras. Mengupas Watak menjadi kegemaran mereka bertiga.
" HA, apa maksud kamu?" Tenri menggeser tempat duduknya.
" Ya, watak sama dengan takwa. Pada saat watak dikomandoi oleh saudara Desri Wandi angkatan VII terjadi pertentangan dikampus. Penggusuran sekertariat dari kampus diwarnai aksi dari beberapa lembaga. alasannya sederhana area parkiran semakin menyempit sementara disatu sisi tingkat pengguna kendaraan semakin meningkat. Disepakatilah perpindahan sekretariat dan kamu tahu dimana tempatnya?" Arief kembali mengetes pengetahuan kedua temannya.
" Baji Iman No. 3!!!" rury dan tenri serentak menjawab.
" Baji Iman sama dengan kata Takwa, mereka mengurai kelompok mereka sendiri. Tempat dikuburnya harta dan pusaka kerajaan gowa dicurigai dibawah rumah yang itu. kini sekertariat HMJA, HMJM menempatinya. Sanggar seni dan watak pernah mendudukinya namun sialnya mereka mendapatkan petaka. sama - sama dibubarkan." Arief menjelaskan dengan seksama.
" Hahahah, pusaka peninggalan orang dulu diperebutkan generasi sekarang. " Rury terbahak bahak.
" Tapi?"
" Tapi apa rief?" Tenri mendesak arief.
" Tapi bukan hanya itu, kata Watak bisa juga kita urai sama dengan kata Kawat. yah KA - WAT. duri memanjang dalam patokan wilayah, tajam menancap dalam kemarahan. Kalimat itu pernah saya ucapkan sebelumnya kan ry?" Arief mencurigai ingatan rury.
" Maksud kamu kalimat yang kamu ambil dari skripsi Yahya Hidayat angkatan IX disekertariat HMJM?" Rury mengingat ngingat.
" yah, kalimat paling aneh dalam sebuah skripsi."
" Tunggu - tunggu, bagaimana dengan harta serta pusaka yang belum mereka temukan?" tenri menghujam kembali pertanyaan.
" Kamu lihat rumah jabatan kapolda sulselbar disamping kampus kita?"
" Maksud kamu bahwa kalimat itu mengarah kesana?" rury kembali menerka - nerka.
" Kalau persoalan menerka nerka, kamu kelihatan hebat?" Tenri mencibir rury.
" Rumah jabatan kapolda dimappaodang sementara kantor dinasnya disudiang ujung sana. Ada apa coba kalau bukan sesuatu." Arief menarik nafasnya pelan.
" yah, ada apa coba dari tadi kita bicara tapi biar satu gelas airpun belum keluar - keluar??" Rury tersenyum. Mukanya dia palingkan sambil tertawa kecil.
Sabtu sore tidak seperti biasanya. Setelah tidur sejenak tenri melirik jam dihandphonenya. Nokia 2300 yang dicarger tadi belum juga berbunyi. jendela kamarnya terbuka lebar. dia biarkan udara masuk kesela sela tipisnya pakaian yang digunakan.
Saya sudah ada didepan..
Diperhatikan dengan seksama sms kemudian terus menindis kebawah. Nomor itu tidak tersave disimnya. 085255282949 kartu As lama area makassar." Rury sudah ada didepan." Tenri bergumam. senyumnya merona.
Sore ini mereka berdua rencananya akan bertemu dikosan arief yang didaeng tata. Rencana itu disepakati tenri setelah mendapat kabar baru tentang watak. Rury memaksa Arief untuk menelanjangi sejarah organisasi besar yang pernah berdiri dikampus mereka. Perkenalan mereka didepan ruangan ketua jurusan manajemen. saat itu arief sedang sibuk mengurus kepanitiaan yang diberikan kepadanya. Tanda tangan Dra. Jannati Tanggisalu ketua jurusan manajemen diburunya. Syarat awal pelaksanaan kegiatan mereka ada ditangan ibu itu. Sebuah rekomendasi untuk ditembuskan kepembantu Ketua III STIEM Bongaya.
Arief Rahman namanya tertera dikomposisi kepanitiaan. posisinya sebagai ketua panitia. Mahasiswa kelahiran Bulukumba tepatnya dibira. tidak jauh dari daerah kelahirannya, suku kajang bersembunyi dari gemerlapnya modernisasi yang semakin merambah. Mereka masih ngotot mempertahankan adat istiadatnya . Sejarah tentang kajang masih sering dia dapatkan. Tutur, dari mulut kemulut begitu mereka menyindir bagaimana sejarah majapahit dan sriwijaya memenuhi lembar demi lembar buku sejarah yang dipelajari dibangku sekolah.
Tenri bergegas mengambil kunci kamarnya. berlalu dengan cepat setelah membaca sms yang masuk. Motor vega orange 210 cc telah menunggunya. " Saya nda usah pakai helm?" tenri berteriak sambil memakai sepatunya.
" Nda usah, kita bisa lewat lorong kecil dekat rumah sakit bayangkara. lagian sore begini polisi mana yang berani mencari uang dijalanan?" rury menjawab.
" Arief anak manajemen itukan yang kamu maksud?" tenri memajukan kepalanya. suaranya sedikit dikeraskan. laju sepeda motor rury semakin cepat. informasi dari arief itu tidak akan disia siakannya.
" Yah, dia banyak mengetahui banyak sejarah watak. Angkatan V diwatak hanya menerima lima orang juga. Ini hampir sama dengan penerimaan diangkatan XII yang hanya menerima 12 orang. cerita itu didapatnya setelah persentuhannya dengan Eko Waworuntu difacebook." Rury mengundur gas motornya.
Angkatan V LPM Watak menerima lima orang anggota pada tahun 2000 Safrin Kuku, Agus Monoarfa, Dedy Setiawan, Roy Haras serta satu orang yang dia lupa namanya. mereka dikukuhkan ditanjung dan yang menjadi ketua panitia pada saat itu adalah Junaidi sekarang keberadaannya disurabaya. Mereka adalah generasi transisi, penuh pergolakan, kambing hitam, tolak ukur, penghianatan, politik praktis, manipulasi, korupsi serta cuci tangan yang menghiasi pengabdian mereka selama satu tahun lebih. " Mereka menyebut dirinya kader transisi" rury melanjutkan bicaranya.
" Masa transisi?" tenri semakin merapatkan dirinya. Dia ingin mengetahui betul sejarah itu.
" Pemecatan menghiasi periode tersebut. Zainal Arifin alvin salah satunya. Juga terbentuk dua gerbong besar diinternal mereka. Ini efek dari terpilihnya Samri Tongili diMupersma Luar biasa." Rury menjelaskan seadanya. Dipertigaan depan rumah sakit haji motornya dibelokkan kearah kiri. Mobil truk pengangkut sampah berhenti didepannya. Dia bergegas menutup mulutnya. Bau sampah menyengat hidungnya. Pembicaraan mereka hentikan.
Saya belum mengerti apa yang kakak maksud?" Mimik mukanya berubah. Suaranya sedikit diturunkan. sambil menatap tajam kearah wahyu.
" Dulu saya berharap bisa menikmati dunia kemahasiswaan saya," sejenak berhenti, sambil mengusap rambutnya, " saya menunggu sampai akhirnya saya selesai dari kampus itu, ternyata waktu tidak berpihak."
" Seberapa besar harapan itu?"
" Mereka selalu melantungkan nyanyian dengan membahana. Begitu dalam makna perjuangan mereka hingga yang mendengarnya hanyut dan seakan tertarik mengikuti iramanya, dan kau tak akan mengerti sekarang."
Malam semakin larut. Hening. Langit - langit kamar menatap dengan samar. Seolah menikmati percakapan dua manusia yang belum ketemu dalam titik sepahaman. Lampu neon 20 watt masih terang merekam setiap gerak yang tak menentu, Pancarannya mendekat untuk memastikan tak ada kata yang terlewatkan.
" Tidak ada maksud dari diskusi kita, sekedar bekal yang akan kau bawa kalau mencicipi dunia barumu nanti." wahyu melanjutkan bicaranya.
" Hahahahha, kiamat kali??"Rury tertawa. " Kak, kita seolah mendiskusikan suatu masa yang telah lewat, masa kelam yang tersurat dalam catatan kusam sejarah, dan bukan untuk diriku."
" Saya selalu percaya siklus kehidupan ry," Wahyu bangun dari tempat tidur. Disudut kamar berdiri meja kecil dengan tumpukan baju menindihnya. Sebotol minyak angin ukuran 20 ml yang dibeli minggu lalu sudah pertengahan isinya. Diambilnya kemudian melangkah kembali ketempat tidur.
" Percaya atau tidak selalu ada pengaruh yang menetes kekehidupan sekarang atas tindak tanduk para pendahulu. Namun jangan kau pertanyakan kondisi hari ini." Wahyu duduk diranjang besi. Bajunya telah naik setengah. Diusap melingkar perutnya dengan minyak angin. aktifitas yang menyita waktu diskusi mereka.
Rury mencoba memahami arah pembicaraan Wahyu. Kakak sepupunya yang sudah lima tahun menyelesaikan studynya. Dia sering mempertanyakan apa saja yang bisa mendekatkan hubungan mereka. Anak tunggal dari kakak ayahnya.
" Serasa ganjil pembicaraan ini, bagaimana mitos yang dulu begitu dipercayai oleh mahasiswa?"
" Ini bukan Mitos ry!!" Wahyu menatap rury, tatapannya dalam. Suaranya meledak.
" Yah terserahlah kak," Rury memperbaiki bantal yang disandarinya. lambang real madrid memenuhi sarung bantal, klub sepak bola yang dijagokannya sejak kepindahan the special one mengarsiteki klub yang baru menjuarai piala raja itu. " Bagaimana ceritanya?"
" Cerita ini sudah lama kami simpan. Tepat jam lima sore, suasana panas menyelimuti kampus, mahasiswa baru keluar dari ruangan dan tanpa sengaja saya melihat pakaian mahasiswa didominasi dengan warna merah. entah laki - laki atau perempuan, dan itu berulang ry!" wahyu berhenti diatur nafasnya sejenak." Tahun berikutnya pun demikian sampai semua orang tahu kalau itu adalah hari penghormatan."
" Hari penghormatan?"
" Hari penghormatan untuk para pendahulu, namun anehnya kami mengerti itu tanpa cerita dari senior. Hanya kami mengerti dengan mengamati dan kami simpan dalam hati kami masing masing." Wahyu menatap langit langit kamar. tatapannya jauh seolah mencari sisa pengalaman yang belum sempat dia ceritakan.
" Terus??" Rury kembali memancing/
" Seakan ada yang memerintahkan kami sebelumnya untuk menyeragamkan pakaian kami, panas yang menyelimuti namun perasaan hati kami begitu tenang, hingga kami selalu merindukan suasana itu." Wahyu kembali melanjutkan. pancingan rury berhasil.
" Itu hanya kebetulan kak, bukankah ketika pikiran kita arahkan kesana maka kondisi itu akan terjadi, apalagi kalau itu yang diinginkan oleh hampir semua mahasiswa." Rury menanggapi serius.
" Kamu masih percaya dengan kebetulan?" Wahyu kembali menatap rury. " Iya kami menginginkan, kehadirannya hanya sekilas tapi ketenangan yang dibawanya tak hilang, berbekas sampai kini tapi itu tak kami dapatkan ditempat lain, hanya disana!"
" Hanya disana??"
" Hanya disana dikampus kuning itu, tepat jam lima sore." wahyu meyakinkan rury. pandangannya dia alihkan kedinding. Foto ukuran 10R terpampang dengan kerel besar dipundaknya. ditatapnya kemudian air matanya menetes begitu saja.
Waktu terus bergerak. Nasib belum mampu dia rubah. Mengingatkan manusia dengan seluruh alam adalah tugasnya. Terlalu banyak cerita yang dicetak bersamanya. Tidak perduli dengan nasib rury yang terheran - heran dengan cerita kakak sepupunya satu tahun lalu. Diingatnya kembali cerita itu saat dia berlibur dirumah wahyu. Dia tedampar diKampus STIEM Bongaya setelah tidak lulus dari UNM.
" Sementara tahun didirikan watak apakah kamu mampu menangkapnya?"
" Menurutku tidak ada yang menarik untuk kita bahas dengan tahun didirikannya,"
Watak didirkan tahun 1997 pada saat krisis finansial Asia mulai menjalar, tepatnya satu tahun sebelum tragedi Trisakti. " Tapi bukan itu letak persoalan kenapa harus mendiskusikannya dengan kamu." Heny memperbaiki posisi duduknya. matanya melirik kekiri kekanan. Informasi itu seolah disembunyikannya".
" Terus?"
Masonic. mereka adalah pelaksana agenda tatanan dunia baru. Organisasi rahasia terbesar didunia saat ini. gerakannya seperti tangan tersembunyi menurut Smith. Freemasonry yang berdiri tahun 1717 sekarang menjalar kepenjuru dunia. VOC pun dicuriga sebagai perusahaan dagang milik mereka. " angka lucifer adalah hal yang saya maksud."
" Angka lucifer yang 666 itu?"
" Yah!" Heny membenarkan.
" Maksud kamu mereka terlibat dalam gerakan itu?"
1997 menurutku punya makna tersendiri buat mereka. Kalau kita kurangkan Angka 1 dengan angka tujuh terakhir, kita akan dapatkan angka minus 6. pengurangan itu sangat penting sebagai bentuk pembalikan simbol mereka. angka 99 yang ditengah kita balik kemudian kita rangkum semuanya hasilnya menjadi 666. bahkan saya mencurigai mereka menyembunyikan sesuatu dibalik kehadiran mereka. karena tahun berdiri mereka hampir sama dengan tahun disepakatinya perjanjian bongaya tahun 1667.
" Jadi selama ini mereka terlibat dalam gerakan tersebut?"
" Belum pasti, tetapi logo mereka mengantarkan kita untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Diujung pensil mirip dengan peramida terbalik dan ditengah piramida itu ada lingkaran kecil. Menurut arsip yang saya dapat sebenarnya dulunya berbentuk mata satu. tapi dari tahun ketahun semakin samar." Heny membalik balik kertas dihadapannya. pensil 2b ditangannya dari tadi menggores gores membentuk lingkaran. penjelasannya melompat lompat.
Kampus semakin dipadati mahasiswa. disamping tempat duduk mereka didepan ruang G2 telah diisi oleh tiga orang mahasiswa. ditaman kampus segerombolan mahasiswa sementara asyik menggoda pengantar kopi. Kampus dengan warkop terluas diIndonesia mereka menyebutnya.
" dari mana keberadaan mereka bisa terhubung dengan gerakan mistik itu?"
" Kerjasama diantara mereka dengan MRC sangat erat kaitannya. kepentingan yang saling mendukung. Watak berdiri dengan semangat kejurnalistikan untuk melakukan perubahan dengan media sementara MRC menginginkan petunjuk pasti keberadaan tumpukan harta karun."
" Harta peninggalan kerajaan gowa yang kau maksud?"
" Iya, perjanjian yang tidak seimbang antara kerajaan Gowa dengan VOC. Gowa terdesak karena kekalahannya sehingga perjanjian tersebut terpaksa ditanda tanganinya. Ketika Gowa sementara berunding dilain pihak harta dan beberapa pusaka kerajaan dikubur dalam satu tempat. Itulah kenapa proses perundingan diulur oleh Sultan Hasanuddin sampai proses penguburan itu selesai. Namun itu akhirnya terendus. " Heny mengusap mukanya. kakinya yang terbungkus sepatu adidas hijau diluruskan. ditatapnya mahasiswa yang duduk diujung depan ruang dosen.
" Wartawan harian tempo mengetahui gerakan sistematis itu. dia mengetahui persis dibalik rencana besar MRC. Investigasi yang dilakukannya menarik baginya. MRC dicurigai dibalik jatuhnya Presiden Soeharto. wartawan itu adalah teman akrab Aswil Ali semasa SMA dulu. Diapula yang memperkenalkan dunia kejurnalistikan pada saat pertemuan mereka diacara reuni SMA mereka. jalinan itu masih terus bertahan, dan sekarang Indra angkatan IV diwatak masih bertahan diharian tempo. " Heny menjelaskan dengan tergesa - gesa seolah ada yang memburunya.
" Jadi berdirinya watak selama ini tidak lebih dari satu bentuk rekayasa semata?"
" jangan terlalu cepat menyimpulkan" Heny tiba - tiba berdiri melangkah menjauh.
Ruang yang diawasi oleh dua wanita itu tampak lengang. Satu pengawas yang memakai jilbab besar sama persis dengan ukuran badannya sedang asyik main game dikomputer meja kerjanya. Sesekali senyum kemenangan keluar begitu saja. Diujung sana dengan tumpukan koran serta buku diatas mejanya sedang asyik menonton dilayar televisi 14 inchi. Lulusan yang sama ditempatnya ia bekerja kini. Dia ditarik bekerja karena pengalamannya waktu mahasiswa dulu dijurusan. Bekerja dikampus ini adalah kebanggan baginya.
Perpustakaan dengan ukuran 7 kali 14 meter tersebut dulunya tidak seperti itu. Tumpukan buku masih ada dimana - mana. Sejak 2008 setelah bangunan dirombak dan dipasangi pendingin ruangan mahasiswa hanya menjadikannya sebagai tempat on line. Ruangan itu tidak lagi diperuntukan total untuk membaca. Tas dan jaketnya tolong jangan dibawa masuk. Kalimat itu tertera menggantung. Mahasiswa dimeja ujung sebelah kanan sedang asyik menatap laptopnya.
Rury membuka pintu dengan pelan. Ditatapnya ruangan kedalam. Kehadirannya tidak mengganggu penghuni awal ruangan itu. Langkahnya diperlambat mendekat kearah meja heny.
" Kak." rury bertanya pelan.
" Iya kenapa dek?" Wanita itu menjawab tanpa memalingkan mukanya sama sekali.
" Buku pengantar manajemen dimana?"
" Kamu cari saja dilemari sana." Heny menunjuk kelemari ujung. " Tidak teratur dek, soalnya buku - buku disini masih kurang." lanjutnya.
" Kok bisa?"
" Banyak yang tidak kembali, alasannya hilanglah atau tidak melapor sama sekali. Mahasiswa disini masih banyak yang seperti itu." heny menjelaskan dengan seksama. " Tugas dari k' cali pasti?"
" K' cali?" rury kaget.
" Muhammad Ramli kan?"
" Oh, iya kak." Rury membenarkan.
" Nama lengkapnya Muhammad Ramli. Dia dosen baru dikampus ini. Dia juga alumni sama seperti saya ini. tapi dia melanjutkan pascasarjananya di Unhas baru mendaftar kembali. Saya akrab dengan beliau."
Tumpukan buku tersusun rapi dihadapannya. Pulpen dengan berbagai model menyatu digelas kecil. Mendata mahasiswa yang meminjam buku serta mereka yang baru mau mendaftar menjadi anggota perpustakaan menjadi tugasnya. rambutnya yang sebahu sesekali disentuhnya.
" Ini ruangan apa?" rury melirik keruangan tertutup disampingnya.
" Oh, itu ruangan pimpinan perpustakaan."
" Ehmm." rury bergumam.
" tapi bapak belum datang, biasanya dia muncul sebelum jam sebelas siang." heny memotong.
" Jadi bisa dong saya minta tolong urus masalah nilai untuk mata kuliah k' cali nanti?" Rury tersenyum lebar. Dia menatap penuh ruangan. suaranya dikecilkan. Mereka hanya ada berempat dalam ruangan tersebut.
" K' cali itu orangnya tegas. saya segan berbicara dengan beliau. Dulunya dia aktifis dikampus ini. Dia itu pendiri watak dikampus ini?"
" Pendiri watak?"
" Wadah Insan Cita Kampus disingkat watak. dia pendirinya." Heny menjawab seadanya. kemudian memalingkan muka kearah box black penghiburnya. Tontonan musik didahsyat pagi - pagi menantinya.
" saya kira wartawan tanpa kamera kak." rury bergurau.
" Tepatnya Lembaga Politik Mahasiswa. " heny mengecilkan volume televisinya." Lembaga Pers Mahasiswa mereka menyebut diri mereka. namun aktifitasnya kebanyakan berbau politik. Jarang - jarang kita temui berita mereka. yang bisa menulis pun buktinya sangat kurang. menjadi wartawan profesional apalagi. tapi kalau persoalan perebutan kekuasaan mereka nomor satu. tapi yang saya kagumi dari mereka, mereka aktif menyuarakan persoalan - persoalan rakyat."
Rury mendengarkan pasti. matanya melirik ketumpukan buku. Secarik kertas terselip ditengah tumpukan itu. " Heny banyak tahu tentang watak." Gumamnya. Matanya kembali melirik kertas yang terselip itu kemudian berdiri melangkah kelemari yang ditunjukkan heny sebelumnya.
Acara dahsyat diRCTI. Olga tampak menggoda bondan. sementara raffi sedang duduk ditengah tengah penonton. Bintang tamu tidak luput dari kerjaan mereka berdua. Heny tampak ikut tersenyum menyaksikan ulah presenter itu.
" Kak hanya ada dua bukunya, yang satu banyak isinya yang hilang sementara yang ini terbitan 1987. ada apa dengan perpustakaan ini.?" Rury mengangetkan. buku yang dipegangnya diperlihatkan keheny.
BRUKKK. Buku berserakan dikarpet hijau. Jatuh sekilas cahaya. remote yang dicari heny tetap diam diposisinya. Tangannya menyentuh tumpukan itu saat ingin mengecilkan volume tv kembali. Heny cepat memungut bukunya.
Rury meminta maaf berulang - ulang. Tapi tidak ada jawaban pasti yang keluar. Didapatnya kertas yang menarik perhatiannya tadi.
Red com/260907/hantu-bergentayangan. Siapa NUA terakhir??...
" Saya berharap kamu sudah memahami betul semua kondisi kampus ini, lain kali kamu langsung cari buku yang kamu inginkan."
" Saya minta maaf kak, tidak ada maksud sampai sejauh ini mengganggu kakak." Rury kembali meminta maaf kesekian kalinya.
" Saya yang ceroboh.'' heny menjawab singkat.